Waktu istirahat sudah lewat beberapa menit, tapi anak-anak kelas IV belum juga diperbolehkan keluar. Sebabnya ialah karena ball-point Marni yang baru dibelikan ibunya hilang.
Bu Tuti paling tidak senang jika ada muridnya yang menjadi pencuri. Bu Tuti ingin sekali menangkap pencuri kecil itu dan menghukumnya supaya jera.
Tapi si pencuri tidak juga ditemukan, walaupun Marni sudah memeriksa semua isi tas teman-temannya. Ball-point merahnya yang amat bagus dan mahal harganya itu tetap hilang.
Marni tahu, ibunya tentu marah dan akan kurang mempercayainya lagi. Tapi lebih dari itu, dia kecewa sebab ball-point itu adalah alat tulisnya yang terbaik, yang amat dia sukai dan masih baru. Ibu yang membelikannya kemarin.
Karena tidak ketemu juga, akhirnya Bu Tuti menghentikan pencarian. Anak-anak berhamburan keluar, sebab waktu istirahat hampir habis, tinggal 10 menit lagi.
Marni menundukkan kepala. Matanya merah. Dia hampir saja menangis karena kecewa. Tasnya dia sorongkan ke dalam laci, lalu dengan perlahan dia melangkah keluar. Di sana, dijumpainya Lusi, adiknya yang duduk di kelas III.
“Ada apa?” tanya Lusi.
“Ball-point baruku hilang.”
“Ball-point baruku hilang.”
“Hilang? Kenapa?”
“Dicuri anak nakal,” kata Marni sedih sambil berusaha menahan airmatanya yang hampir jatuh. Digenggamnya tangan adiknya lalu diajaknya ke warung Pak Karso.
“Dicuri anak nakal,” kata Marni sedih sambil berusaha menahan airmatanya yang hampir jatuh. Digenggamnya tangan adiknya lalu diajaknya ke warung Pak Karso.
Warung Pak Karso terletak di halaman sekolah dan merupakan warung satu-satunya yang boleh berjualan di situ. Anak-anak hanya boleh jajan di situ.
Dengan begitu Pak Kepala Sekolah bisa mengontrol makanan yang dibeli anak-anak dan terjaga kebersihannya.
Marni menggandeng adiknya masuk ke warung itu. Dia memesan es buah.
Di warung itu, anak-anak ramai bercerita tentang apa saja, yang lucu-lucu atau yang sedih-sedih. Si Tarmin menceritakan neneknya yang sudah pikun.
Marni tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Disendoknya es buahnya pelan-pelan, dimasukkan ke dalam mulut. Dia tidak berkata apa-apa.
Rasanya, dia tidak dapat menikmati es buahnya dengan baik. Seakan-akan es buah itu hambar rasanya. Direnungkannya peristiwa tadi sambil sekali-sekali melirik ke arah Pak Karso yang sedang sibuk melayani anak-anak.
Lusi tidak diperhatikannya sama sekali. Kelakukannya ini amat berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang riang gembira. Mereka bergurau bersama teman-temannya atau Pak Karso. Pak Karso selalu tersenyum.
“Wah, saya dengar besok Pak Karso mau pulang ke desa?” sela Adi.
“Ya, rindu sama anaknya. Ya kan, Pak?” balas Joni.
“Ya, rindu sama anaknya. Ya kan, Pak?” balas Joni.
“Ah, tidak. Pak Karso mau jadi pengusaha di sana,” gurau Dani. Pak Karso tersenyum kecut, memandangi anak-anak satu persatu.
“Kenapa, Pak?”“Tidak jadi!” katanya datar.
“Uang bapak hilang. Dicuri orang tadi malam.”
“Hah, dicuri? Berapa, Pak?”
“Dua ratus ribu…”
“Hah, dicuri? Berapa, Pak?”
“Dua ratus ribu…”
Anak-anak berpandangan. ‘Dua ratus ribu’. Seolah tak bisa dipercaya. Marni yang tadi tidak peduli kini jadi tertarik.
“Pak Karso, kok, tidak sedih?” tanya Marni yang duduk di ujung.
“Untuk apa disedihkan? Barang yang hilang tidak akan kembali dengan ditangisi. Mungkin sudah begini nasib Bapak. Jadi tak apa. Bapak rela. Bapak juga tahu, pasti pencuri itu butuh uang. Mungkin anaknya sakit keras tapi dia tak punya uang. Yah, tak apa. Semoga dia sadar dan mempergunakan uang itu sebaik-baiknya.” Pak Karso tersenyum walaupun kecut.
Di sudut warung, Marni terbelalak. Tak percaya rasanya. Betapa tabahnya Pak Karso. Dan betapa rela dia mengampuni sesamanya.
Marni berpikir, “Apakah artinya sebuah ball-point dibandingkan dengan uang dua ratus ribu rupiah?” Dia jadi ingin seperti Pak Karso.
Sekarang dia tidak sedih lagi. Biarlah, dia relakan ball-pointnya. Mungkin jika dia naik kelas ibunya mau membelikannya sebuah lagi.
Marni membayar es buah yang dipesannya. Digandengnya Lusi keluar. Mereka pergi ke Kantor Guru, berbohong bahwa ball-pointnya sudah ditemukan. Biarlah ball-point itu dipakai si pencuri. Dia tentu lebih membutuhkannya.
Sumber : Bobo no. II/ThnVII/1979 (Matheus D.)

No comments:
Post a Comment